SISTEM
RESPIRASI
Istilah bernapas, seringkali diartikan dengan respirasi, walaupun secara
harfiah sebenarnya kedua istilah tersebut berbeda. Pernapasan (breathing) artinya menghirup dan menghembuskan napas.
Oleh karena itu, bernapas diartikan sebagai proses memasukkan udara dari
lingkungan luar ke dalam tubuh dan mengeluarkan udara sisa dari dalam tubuh ke
lingkungan. Sementara, respirasi (respiration) berarti
suatu proses pembakaran (oksidasi) senyawa organik (bahan makanan) di dalam sel
sehingga diperoleh energi. Energi yang dihasilkan dari respirasi sangat
menunjang sekali untuk melakukan beberapa aktifitas. Misalnya saja, mengatur
suhu tubuh, pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Oleh karena itu, kegiatan
pernapasan dan respirasi sebenarnya saling berhubungan.
Dalam
fisiologi, pernapasan memiliki makna :
1. Respirasi
Internal :Proses metabolisme intrasel di dalam mitokondria.
2. Respirasi Ekternal :Keseluruhan rangkaian kejadian yang terlibat
dalampertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuh.
STRUKTUR
SISTEM RESPIRASI
Mekanisme Pertukaran Gas Oksigen (02)dan Karbondioksida (CO2)
Udara
lingkungan dapat dihirup masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui dua cara,
yakni pernapasan secara langsung dan pernapasan tak langsung. Pengambilan udara
secara langsung dapat dilakukan oleh permukaan tubuh lewat proses difusi.
Sementara udara yang dimasukan ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan
dinamakan pernapasan tidak langsung.
Saat kita
bernapas, udara diambil dan dikeluarkan melalui paru-paru. Dengan lain kata,
kita melakukan pernapasan secara tidak langsung lewat paru-paru. Walaupun begitu,
proses difusi pada pernapasan langsung tetap terjadi pada paru-paru. Bagian
paru-paru yang meng alami proses difusi dengan udara yaitu gelembung halus
kecil atau alveolus. Oleh karena itu, berdasarkan proses terjadinya pernapasan,
manusia mempunyai dua tahap mekanisme pertukaran gas. Pertukaran gas oksigen
dan karbon dioksida yang dimaksud yakni mekanisme pernapasan eksternal dan
internal.
1. Pernafasan
Eksternal
Ketika kita
menghirup udara dari lingkungan luar, udara tersebut akan masuk ke dalam paru-paru.
Udara masuk yang mengandung oksigen tersebut akan diikat darah lewat difusi.
Pada saat yang sama, darah yang mengandung karbondioksida akan dilepaskan.
Proses pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara udara dan darah
dalam paru-paru dinamakan pernapasan eksternal.
Saat sel darah merah (eritrosit) masuk
ke dalam kapiler paru-paru, sebagian besar CO2 yang diangkut berbentuk ion
bikarbonat (HCO- 3). Dengan bantuan enzim karbonat anhidrase, karbondioksida
(CO2) air (H2O) yang tinggal sedikit dalam darah akan segera berdifusi keluar.
| Seketika itu juga, hemoglobin tereduksi (yang disimbolkan Hb) melepaskan ion-ion hidrogen (H+) sehingga hemoglobin (Hb)-nya juga ikut terlepas. Kemudian, hemoglobin akan berikatan dengan oksigen (O2) menjadi oksihemoglobin (disingkat HbO2). |
| Proses difusi terjadi di paru-paru (alveolus), karena ada perbedaan tekanan parsial antara udara dan darah dalam alveolus. Tekanan parsial membuat konsentrasi oksigen dan karbondioksida pada darah dan udara berbeda. |
Tekanan
parsial oksigen yang kita hirup akan lebih besar dibandingkan tekanan parsial
oksigen pada alveolus paru-paru. Dengan kata lain, konsentrasi oksigen pada
udara lebih tinggi daripada konsentrasi oksigen pada darah. Oleh karena itu,
oksigen dari udara akan berdifusi menuju darah pada alveolus paru-paru.
Sementara
itu, tekanan parsial karbondioksida dalam darah lebih besar dibandingkan
tekanan parsial karbondioksida pada udara. Sehingga, konsentrasi karbondioksida
pada darah akan lebih kecil di bandingkan konsentrasi karbondioksida pada
udara. Akibatnya, karbondioksida pada darah berdifusi menuju udara dan akan
dibawa keluar tubuh lewat hidung.
2. Pernafasan
Internal
Berbeda dengan pernapasan eksternal,
proses terjadinya pertukaran gas pada pernapasan internal berlangsung di dalam
jaringan tubuh. Proses pertukaran oksigen dalam darah dan karbondioksida
tersebut berlangsung dalam respirasi seluler. Setelah oksihemoglobin (HbO2)
dalam paru-paru terbentuk, oksigen akan lepas, dan selanjutnya menuju cairan
jaringan tubuh. Oksigen tersebut akan digunakan dalam proses metabolisme sel.
Proses
masuknya oksigen ke dalam cairan jaringan tubuh juga melalui proses difusi.
Proses difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial oksigen dan
karbondioksida antara darah dan cairan jaringan. Tekanan parsial oksigen dalam
cairan jaringan, lebih rendah dibandingkan oksigen yang berada dalam darah.
Artinya konsentrasi oksigen dalam cairan jaringan lebih rendah. Oleh karena
itu, oksigen dalam darah mengalir menuju cairan jaringan.
Sementara
itu, tekanan karbondioksida pada darah lebih rendah daripada cairan jaringan.
Akibatnya, karbondioksida yang terkandung dalam sel-sel tubuh berdifusi ke
dalam darah. Karbondioksida yang diangkut oleh darah, sebagian kecilnya akan
berikatan bersama hemoglobin membentuk karboksi hemoglobin (HbCO2).
Namun, sebagian
besar karbondioksida tersebut masuk ke dalam plasma darah dan bergabung dengan
air menjadi asam karbonat (H2CO3). Oleh enzim anhidrase, asam karbonat akan
segera terurai menjadi dua ion, yakni ion hidrogen (H+) dan ion bikarbonat
(HCO- ). CO2 yang diangkut darah ini tidak semuanya dibebaskan ke luar tubuh
oleh paru-paru, akan tetapi hanya 10%-nya saja. Sisanya yang berupa ion-ion
bikarbonat yang tetap berada dalam darah. Ion-ion bikarbonat di dalam darah
berfungsi sebagai bufer atau larutan penyangga. Lebih tepatnya, ion tersebut
berperan penting dalam menjaga stabilitas pH (derajat keasaman) darah.
Organ
respirasi:
1. Hidung
Hidung merupakan bagian yang paling menonjol di wajah, yang berfungsi
menghirup udara pernafasan, menyaring udara,menghangatkan udara pernafasan,
juga berperan dalam resonansi suara. Hidung juga merupakan alat indera manusia
yang menanggapi rangsang berupa bau atau zat kimia yang berupa gas.di dalam rongga hidung terdapat serabut saraf
pembau yang dilengkapi dengan sel-sel pembau.setiap sel pembau mempunyai rambut
-rambut halus(silia olfaktori)di ujungnya dan diliputi oleh selaput lendir yang
berfungsi sebagai pelembab rongga hidung.
Pada saat
kita bernapas, zat kimia yang berupa gas ikut masuk ke dalam hidung kita. zat
kimia yang merupakan sumber bau akan dilarutkan pada selaput lendir,kemudian
akan merangsang rambut-rambut halus pada sel pembau. sel pembau akan meneruskan
rangsang ini ke otak dan akan diolah sehingga kita bisa mengetahui jenis bau
dari zat kimia tersebut. Hidung merupakan organ pernapasan yang letaknya paling
luar. Manusia menghirup udara melalui hidung. Pada permukaan rongga hidung
terdapat rambut-rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi menyaring udara
yang masuk dari debu atau benda lainnya. Di dalam rongga hidung terjadi
penyesuaian suhu dan kelembapan udara sehingga udara yang masuk ke paru-paru
tidak terlalu kering ataupun terlalu lembap. Udara bebas tidak hanya mengandung
oksigen saja, namun juga gas-gas yang lain. Misalnya, karbon dioksida (CO2), belerang
(S), dan nitrogen (N2). Gas-gas tersebut ikut terhirup, namun hanya oksigen
saja yang dapat berikatan dengan darah. Selain sebagai organ pernapasan, hidung
juga merupakan indra pembau yang sangat sensitif. Dengan kemampuan tersebut,
manusia dapat terhindar dari menghirup gas-gas yang beracun atau berbau busuk
yang mungkin mengandung bakteri dan bahan penyakit lainnya. Dari rongga hidung,
udara selanjutnya akan mengalir ke tenggorokan.
2. Nasofaring
Faring yang sering disebut-sebut adalah bagian dari sistem pencernaan dan juga
bagian dari sistem pernafasan. Hal ini merupakan jalan dari udara dan makanan.
Udara masuk ke dalam rongga mulut atau hidung melalui faring dan masuk ke dalam
laring. Nasofaring terletak di bagian posterior rongga hidung yang
menghubungkannya melalui nares posterior. Udara masuk ke bagian faring ini
turun melewati dasar dari faring dan selanjutnya memasuki laring. Kontrol
membukanya faring, dengan pengecualian dari esofagus dan membukanya tuba
auditiva, semua fase pembuka masuk ke dalam faring dapat ditutup secara
volunter. Kontrol ini sangat penting dalam pernafasan dan waktu makan, selama
membukanya saluran nafas maka jalannya pencernaan harus ditutup sewaktu makan
dan menelan atau makanan akan masuk ke dalam laring dan rongga hidung
posterior.
3. Laring
Organ ini terletak di antara akar lidah dan trakhea. Laring terdiri dari
Sembilan kartilago melingkari bersama dengan ligamentum dan sejumlah otot yang
mengontrol pergerakannya. Kartilago yang kaku pada dinding laring membentuk
suatu lubang berongga yang dapat menjaga agar tidak mengalami kolaps. Dalam
kaitan ini, maka laring membentuk trakea dan berbeda dari bangunan berlubang
lainnya. Laring masih terbuka kecuali bila pada saat tertentu seperti adduksi
pita suara saat berbicara atau menelan. Pita suara terletak di dalam laring,
oleh karena itu ia sebagai organ pengeluaran suara yang merupakan jalannya
udara antara faring dan laring.
Bagian laring sebelah atas luas, sementara bagian bawah sempit dan berbentuk
silinder. Kartilago laring merupakan kartilago yang paling besar dan berbentuk
V yaitu kartilago tiroid. Kartilago ini terdiri dari dua kartilago yang cukup
lebar, dimana pada bagian depan membentuk suatu proyeksi subkutaneus yang dikenal
sebagai penonjolan laringeal. Kartilago ini menempel pada tulang lidah melalui
membrana hyotiroidea, suatu lembaran ligamentum yang luas dan terhadap
kartilago krikoid oleh suatu “elastic cone” suatu ligamentum yang sebagian
besar terdiri dari jaringan elastik berwarna kuning. Kartilago krikoid lebih
kecil tapi lebih tebal terdiri dari cincin depan, tetapi meluas ke dalam suatu
struktur menyerupai plat untuk membentuk bagian bawah dan belakang laring.
Kartilago arytenoid berjumlah dua buah terletak pada batas atas dari bagian
yang luas sebelah posterior krikoid. Kartilago ini kecil dan berbentuk piramid.
Epiglotis, kartilago yang berbentuk daun terletak di pangkal lidah dan
kartilagotiroid pada linea mediana anterior. Kartilago ini melebar secara oblik
ke belakang dan atas.
Rongga laring, rongga ini dimulai pada pertemuan antara faring dan laring serta
ujung dari bagian bawah kartilago krikoid dimana ruangan ini akan berlanjut
dengan trakhea. Bagian ini dibagi ke dalam dua bagian oleh vokal fold dan
ventrikuler fold secara horizontal. Vokal fold atau pita suara merupakan dua
ligementum yang kuat dimana meluas dari sudut antara bagian depan terhadap dua
kartilago aritenoid pada bagian belakang. Ventrikuler fold sering disebut
sebagai pita suara palsu yang terdiri dari lipatan membrana mukosa dan terselip
suatu pita jaringan ikat. Lipatan-lipatan berada di samping terhadap pita suara
yang asli. Ruangan di antara lipatan pita disebut sebagai glottis, bentuknya
bervariasi sesuai dengan ketegangan lipatan pita.
Fungsi laring, yaitu mengatur tingkat ketegangan dari pita suara yang
selanjutnya mengatur suara. Laring juga menerima udara dari faring diteruskan
ke dalam trakhea dan
mencegah makanan dan air masuk ke dalam trakhea. Kedua fungsi ini sebagian besar dikontrol oleh muskulus instrinsik laring.
mencegah makanan dan air masuk ke dalam trakhea. Kedua fungsi ini sebagian besar dikontrol oleh muskulus instrinsik laring.
Pengaturan suara. Otot-otot laring baik yang memisahkan vokal fold atau yang
membawanya bersama, pada kenyataannya mereka dapat menutup glotis kedap udara,
seperti halnya pada saat seseorang mengangkat beban berat atau terjadinya
regangan pada waktu defekasi dan juga pada waktu seseorang menahan nafas pada
saat minum. Bila otot-otot ini relaksasi, udara yang tertahan di dalam rongga
dada akan dikeluarkan dengan suatu tekanan yang membukanya dengan tiba-tiba
yang menyebabkan timbulnya suara ngorok. Pengaliran udara pada trakhea, glotis
hampir terbuka setiap saat dengan demikian udara masuk dan keluar melalui
laring. Namun akan menutup pada saat menelan. Epiglotis yang berada di atas
glottis berfungsi sebagai penutup laring. Ini akan dipaksa menutup glottis bila
makanan melewatinya pada saat menelan. Epiglotis juga sangat berperan pada
waktu memasang intubasi, karena dapat dijadikan patokan untuk melihat pita
suara yang berwarna putih yang mengelilingi lubang.
4. Trakhea
Trakea terletak memanjang di bagian leher dan rongga dada atau (toraks).
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan
sebagian di rongga dada. Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh
cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Berupa pipa yang
dindingnya terdiri atas 3 lapisan, yaitu lapisan luar terdiri atas jaringan
ikat, lapisan tengah terdiri atas otot polos dan cincin tulang rawan, dan
lapisan dalam terdiri atas jaringan epitelium besilia. Terletak di leher bagian
depan kerongkongan. Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluh
cincin-cincin tulang rawan yang berbentuk C. Cincin-cincin tulang rawan ini di
bagian belakangnya tidak tersambung yaitu di tempat trakea menempel pada
esofagus. Hal ini berguna untuk mempertahankan agar trakea tetap terbuka.
Dinding bagian dalam trakea berlapis sel-sel epitel berambut getar (silia) dan
selaput lendir Cincin-cincin tulang rawan diikat bersama oleh jaringan fibrosa,
selain itu juga terdapat beberapa jaringan otot. Trakea dilapisi oleh selaput
lendir yang dihasilkan oleh epitelium bersilia. Silia-silia ini bergerak ke
atas ke arah laring sehingga dengan gerakan ini debu dan butir-butir halus
lainnya yang ikut masuk saat menghirup napas dapat dikeluarkan. Silia berfungsi
menahan dan mengeluarkan kotoran kotoran atau debu-debu yang masuk bersama
udara. Trakea bercabang dua , satu menuju paru-paru kiri , dan yang lainnya
menuju paru-paru kanan. cabang trakea disebut bronkus.
5. Bronkhus
Merupakan
percabangan trakea yang menuju paru-paru kanan dan kiri. Struktur bronkhus sama
dengan trakea, hanya dindingnya lebih halus. Kedudukan bronkhus kiri lebih
mendatar dibandingkan bronkhus kanan, sehingga bronkhus kanan lebih mudah
terserang penyakit. Bronkus tersusun atas percabangan, yaitu bronkus kanan dan
kiri. Letak bronkus kanan dan kiri agak berbeda. Bronkus kanan lebih vertikal
daripada kiri. Karena strukturnya ini, sehingga bronkus kanan akan mudah
kemasukan benda asing. Itulah sebabnya paru-paru kanan.
6. Bronkhiolus
Bronkheolus
adalah percabangan dari bronkhus, saluran ini lebih halus dan dindingnya lebih
tipis. Bronkheolus kiri berjumlah 2, sedangkan kanan berjumlah 3, percabangan
ini akan membentuk cabang yang lebih halus seperti pembuluh.
7. Alveolus
Alveolus
merupakan saluran akhir dari alat pernapasan yang berupa gelembung-gelembung
udara. Gelembung tersebut diselimuti pembuluh kapiler darah . Alveolus adalah
kantung berdinding tipis, lembap didalam paru2 yang mengandung udara dan
berlekat erat dengan kapiler-kapiler darah, melalui seluruh dinding inilah
terjadi pertukaran gas. Alveolus terdiri atas satu lapis sel epitelium pipih
dan di sinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara. Epitel pipih
yang melapisi alveoli memudahkan darah di dalam kapiler-kapiler darah mengikat
oksigen dari udara dalam rongga alveolus. Adanya alveolus memungkinkan
terjadinya perluasan daerah permukaan yang berperan penting dalam pertukaran
gas O2 dari udara bebas ke sel-sel darah dan CO2 dari sel-sel darah ke udara.
Jumlah
alveolus pada paru-paru kurang lebih 300 juta buah. Adanya alveolus ini
menjadikan permukaan paru-paru lebih luas. Diperkirakan, luas permukaan
paruparu sekitar 160 m2. Dengan kata lain, paru-paru memiliki luas permukaan
sekitar 100 kali lebih luas daripada luas permukaan tubuh.
Dinding
alveolus mengandung kapiler darah. Oksigen yang terdapat pada alveolus
berdifusi menembus dinding alveolus, lalu menem bus dinding kapiler darah yang
mengelilingi alveolus. Setelah itu, masuk ke dalam pembuluh darah dan diikat
oleh hemoglobin yang terdapat di dalam sel darah merah sehingga terbentuk
oksihemoglobin (HbO2). Akhirnya, oksigen diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.
Setelah sampai ke dalam sel-sel tubuh, oksigen dilepaskan sehingga
oksihemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Oksigen ini digunakan untuk
oksidasi.
Dalam tubuh, oksigen digunakan untuk proses pembentukan
energi. Pada proses tersebut dihasilkan energi dan gas karbon dioksida (CO2).
CO2 tersebut diikat kembali oleh hemoglobin darah. Setelah itu, darah akan
membawa CO2 ke paru-paru. Sesampai di alveolus, CO2 menembus dinding pembuluh
darah dan dinding alveolus. CO2 dari paru-paru menuju tenggorokan, kemudian ke
lubang hidung untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Jadi proses pertukaran gas
sebenarnya berlangsung di alveolus.
Mekanisme
Pertukaran Oksigen (O2) dan Karbon Dioksida (CO2) Dari Alveolus ke Kapiler
Darah dan Sebaliknya
1. Pertukaran
O2 dan CO2 Dari Alveolus ke Kapiler Darah
Pertukaran
gas oksigen dan karbon dioksida terjadi di alveolus. Oksigen dari Alveolus
dibawa ke Kapiler darah dan berdifusi dalam darah. Di dalam sel-sel darah
merah, oksigen berikatan dengan Hemoglobin (Hb) membentuk oksihemoglobin (HbO2)
yang selanjutnya akan beredar darah menuju seluruh tubuh. Begitu mencapai
sel-sel tubuh, oksigen dilepaskan sehingga HbO2 kembali menjadi Hb.
Dari sekitar
300 liter oksigen yang masuk ke dalam tubuh selama sehari semalam, hanya
sekitar 2%-3% yang dapat larut dalam plasma darah. Sebagian besar oksigen akan
diangkut oleh Hemoglobin dalam sel darah merah. Hemoglobin merupakan zat warna
merah darah atau zat pigmen respirasi yang tersusun atas senyaw hemin atau
hematin (mengandung unsur Fe) dan globin (suatu protein).
2. Pertukaran
O2 dan CO2 Dari Kapiler Darah ke Alveolus
Pada waktu
darah mengalir ke paru-paru, hemoglobin mengikat ooksigen sampai jenuh.
Oksihemoglobin akan melepaskan oksigen lebih banyak pada lingkungan asam.
Apabila lebih banyak oksigen yang digunakan, lebih banyak pula karbon dioksida
yang terbetuk dan diambil oleh darah. Karbon dioksida yang diambil akan
bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (H2CO2) yang berakibat darah
bersifat asam.
Dalam kondisi
normal tubuh menghasilkan sekitar 200 cc karbon dioksida dan setiap liter darah
hanya dapat melarutkan 4,3 cc karbon dioksida. Hal tersebut menyebabkan
terbentuknya asam karbonat dan pH darah menjadi asam (4,5). Dengan adanya ion
Na+ dan K+, keasaman darah dapat dinetralkan.
Mekanisme
Pertukaran Karbon Dioksida Dan Oksigen
Pertukaran
gas antara oksigen dan karbon dioksida terjadi melalui proses difusi. Proses
tersebut terjadi di alveolus dan di sel jaringan tubuh. Proses difusi
berlangsung sederhana, yaitu hanya dengan gerakan molekul-molekul secara bebas
melalui membran sel dari konsentrasi tinggi atau tekanan tinggi ke konsentrasi
rendah atau tekanan rendah.
Proses
pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Oksigen masuk
ke dalam tubuh melalui inspirasi dari rongga hidung sampai alveolus. Di
alveolus oksigen mengalami difusi ke kapiler arteri pori-pori. Masuknya oksigen
dari luar (lingkungan) menyebabkan tekanan parsial oksigen (P02) di alveolus
Iebih tinggi dibandingkan dengan P02 di kapiler arteri paru-paru. Karena proses
difusi selalu terjadi dari daerah yang bertekanan parsial tinggi ke daerah yang
bertekanan parsial rendah, oksigen akan bergerak dari alveolus menuju kapiler
arteri paru-paru.
Oksigen di
kapiler arteri diikat oleh eritrosit yang mengandung hemoglobin sampai menjadi
jenuh. Makin tinggi tekanan parsial oksigen di alveolus, semakin banyak oksigen
yang terikat oleh hemoglobin dalam darah. Hemoglobin terdiri dari empat sub
unit, setiap sub unit terdiri dari bagian yang disebut heme. Di setiap pusat
heme terdapat unsur besi yang dapat berikatan dengan oksigen, sehingga setiap
molekul hemoglobin dapat membawa empat molekul oksigen berbentuk
oksihemoglobin. Reaksi antara hemoglobin dan oksigen berlangsung secara
reversibel (bolak-balik) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, pH,
konsentrasi oksigen dan karbon dioksida, serta tekanan parsial.
Hemoglobin
akan mengangkut oksigen ke jaringan tubuh yang kemudian akan berdifusi masuk ke
sel-sel tubuh untuk digunakan dalam proses respirasi. Proses difusi ini terjadi
karena tekanan parsial oksigen pada kapiler tidak sama dengan tekanan parsial
oksigen di sel-sel tubuh.
Di dalam sel-sel tubuh atau jaringan tubuh, oksigen digunakan untuk proses
respirasi di dalam mitokondria sel. Semakin banyak oksigen yang digunakan oleh
sel-sel tubuh, semakin banyak karbon dioksida yang terbentuk dari proses
respirasi. Hal tersebut menyebabkan tekanan parsial karbon dioksida atau (PCO2)
dalam sel-sel tubuh lebih tinggi dibandingkan PCO2 dalam kapiler vena
sel-sel tubuh. Oleh karenanya karbon dioksida dapat berdifusi dari sel-sel
tubuh ke dalam kapiler vena sel-sel tubuh yang kemudian akan dibawa oleh
eritrosit menuju ke paru-paru. Di paru-paru terjadi difusi CO2 dari kapiler
vena menuju alveolus. Proses tersebut terjadi karena tekanan parsial CO2 pada
kapiler vena lebih tinggi daripada tekanan parsial CO2 dalam alveolus.
Karbon dioksida dalam eritrosit akan bereaksi dengan air membentuk asam
karbonat. Akibat terbentuknya asam karbonat, pH darah menjadi asam, yaitu
sekitar 4,5. Darah yang bersifat asam dapat melepaskan banyak oksigen ke dalam
sel-sel tubuh atau jaringan tubuh yang memerlukannya.
Pengangkutan
karbon dioksida dari jaringan dengan pengubahan dari karbon dioksida menjadi
asam karbonat atau sebaliknya dipercepat oleh enzim karbonat anhidrase.
Apabila ion
H+ tetap tinggal di dalam darah akan berakibat darah bersifat asam. Oleh karena
itu, ion H+ dinetralkan dengan ion K+. Setelah itu aliran darah kembali ke
paru-paru dan melepaskan karbon dioksida. Hal itu dapat mengurai konsentrasi
karbon dioksida dan asam karbonat. Kemudian asam karbonat diuraikan menjadi air
dan karbon dioksida. Darah melepaskan sekitar 10% karbon dioksida saat darah
mengalir ke paru-paru dan sisanya yaitu sekitar 90% tetap tertahan dalam bentuk
bikarbonat (HCO3-) yang bertindak sebagai buffer (penyangga) darah yang penting
untuk menjaga agar Ph darah tetap.
Karbon
dioksida yang dibentuk melalui respirasi sel diangkut menuju paru-paru. Setelah
sampai di alveolus, karbon dioksida berdifusi dari kapiler ke alveolus. Dapi
alveolus, karbon dioksida dikeluarkan melalui saluran pernafasan saat
menghembuskan nafas, dan akan keluar melalui hidung.
Mekanisme
Pernafasan Manusia
Pernapasan
adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur
sekalipun, karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2
jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam.
Pernapasan
luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan
darah dalam kapiler. Pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara
darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru
dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara
di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar, maka udara akan
masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara
akan keluar.
Sehubungan
dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara ( inspirasi) dan pengeluaran
udara ( ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu
pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara
bersamaan.
1. Pernafasan
Dada
Apabila kita
menghirup dan menghempaskan udara menggunakan pernapasan dada, otot yang
digunakan yaitu otot antartulang rusuk. Otot ini terbagi dalam dua bentuk,
yakni otot antartulang rusuk luar dan otot antartulang rusuk dalam.
Saat terjadi
inspirasi, otot antartulang rusuk luar berkontraksi, sehingga tulang rusuk
menjadi terangkat. Akibatnya, volume rongga dada membesar. Membesarnya volume
rongga dada menjadikan tekanan udara dalam rongga dada menjadi kecil/berkurang,
padahal tekanan udara bebas tetap. Dengan demikian, udara bebas akan mengalir
menuju paru-paru melewati saluran pernapasan.
Sementara
saat terjadi ekspirasi, otot antartulang rusuk dalam berkontraksi
(mengkerut/mengendur), sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula.
Akibatnya, rongga dada mengecil. Oleh karena rongga dada mengecil, tekanan
dalam rongga dada menjadi meningkat, sedangkan tekanan udara di luar tetap.
Dengan demikian, udara yang berada dalam rongga paru-paru menjadi terdorong
keluar.
2. Pernafasan
Perut
Pada proses pernapasan ini, fase
inspirasi terjadi apabila otot diafragma (sekat rongga dada) mendatar dan
volume rongga dada membesar, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih
kecil daripada udara di luar, akibatnya udara masuk. Adapun fase ekspirasi
terjadi apabila otot-otot diafragma mengkerut (berkontraksi) dan volume rongga
dada mengecil, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih besar daripada
udara di luar. Akibatnya udara dari dalam terdorong ke luar.

Casino & Hotel, Biloxi - MapYRO
BalasHapusFind casinos 의정부 출장샵 & other lodging near Casino 김제 출장안마 & Hotel, Biloxi 문경 출장마사지 in Biloxi, MS and other places to 태백 출장샵 stay closest to Casino & Hotel. 군포 출장마사지